UJILAH AKU
MALEAKHI 3:6-12
I. Pendahuluan
Bila kita perhatikan keadaan bangsa Indonesia saat ini, maka kita tentu dapat memahami bahwa bangsa Indonesia sedang berada dalam sebuah keadaan atau situasi krisis yang multidimensi. Krisis pangan yang nampak melalui adanya penyakit busung lapar, yang belum lama terdengar di bagian timur Indonesia. Krisis energi yang nampak melalui pemadaman listrik secara bergiliran. Krisis kepercayaan terhadap pemerintah, yang nampak melalui demo-demo yang dilakukan oleh kalangan-kalangan tertentu terhadap keputusan pemerintah – khususnya yang lagi marak saat ini ialah mengenai harga BBM yang naik, dan juga krisis ekonomi (krisis moneter) yang berkelanjutan karena sampai sekarang belum dapat diatasi dengan baik, yang nampak melalui harga barang-barang pokok yang semakin mahal, biaya pendidikan yang semakin tinggi. Sedangkan di satu sisi usaha yang kita tekuni untuk mencukupi biaya kebutuhan hidup yang semakin tinggi, seperti berdagang, kerja kantoran, bisnis, tidak selalu berjalan lancar atau tidak sesuai dengan yang kita kehendaki. Dan keadaan ini justru semakin mempersulit hidup kita.
Situasi bangsa Indonesia yang sedang mengalami krisis multidimensi, dan kenyataan hidup yang terkadang tidak sesuai kehendak kita ini tentu saja memberikan pengaruh yang buruk terhadap setiap Warga Negara Indonesia, di mana kita setiap orang Kristen termasuk di dalamnya. Pengaruhnya ini tidak hanya kepada keadaan jasmani dan batiniah seseorang, yang nampak melalui banyak orang yang kemudian mengidap berbagai penyakit, stress, bahkan depresi, melainkan juga kepada keadaan kerohanian seseorang. Pengaruh yang buruk ini bisa membuat banyak orang, khususnya orang Kristen terjebak di dalam dua sikap ekstrim yang berbahaya.
Sikap ekstrim yang pertama ialah banyak orang kemudian menjadi lebih mementingkan perkara-perkara rohani. Mereka melakukan kewajiban agama secara rutin dan rajin, dengan pemahaman agar mendapat berkat dari Tuhan. Jadi focus utamanya bukan kepada Tuhan, melainkan berkat. Dan tidak sedikit orang-orang Kristen yang memiliki pemahaman ini, mereka rajin beribadah, membaca alkitab, dan kewajiban agama yang lain agar Tuhan membalas kebaikan mereka dengan berkat yang besar. Jadi seakan-akan mereka menanamkan modal pada Tuhan agar mendapat keuntungan, atau seakan-akan memancing Tuhan untuk mendapatkan hasil yang besar.
Sikap ekstrim yang kedua ialah banyak orang kemudian menjadi tidak lagi mementingkan perkara-perkara rohani. Mereka tidak lagi mau melakukan kewajiban agama dengan setia dan penuh tanggung-jawab, karena mereka memahami bahwa tidak mendapatkan apa-apa atau berkat dari Tuhan, yang ada malah hidup mereka semakin sulit. Jadi focus utamanya tetap kepada berkat, bukan kepada Tuhan. Akan tetapi karena tidak mendapat berkat, mereka tidak lagi mau melakukan kehendak Tuhan. Tidak sedikit pula orang-orang Kristen yang memiliki pemahaman ini. Mereka yang dulunya rajin beribadah, melayani, membaca Alkitab, memberikan persembahan termasuk persembahan persepuluhan, kini menjadi malas atau tidak lagi bertanggung-jawab dan setia untuk melakukan kewajiban mereka sebagai umat Allah. Jadi nampaknya mereka menolak keberadaan Tuhan yang tetap menyatakan kasih dan pemeliharaannya kepada umat-Nya. Mereka seakan-akan ingin mengatakan bahwa “iya Tuhan itu ada, tapi Dia jauh berada di sana”, atau “Tuhan itu tidak peduli dengan saya”.
Bagaimana dengan anda dan saya? Apakah kita dengan keadaan bangsa dan kenyataan hidup yang sulit ini menjadikan kita terjebak di dalam dua sikap ekstrim tersebut? Apakah kita tidak lagi setia dan tanggung jawab untuk melakukan kewajiban kita sebagai umat Allah?
II. Keadaan bangsa Israel
Kitab Maleakhi ditulis pada masa sesudah bangsa Israel mengalami pembuangan. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa keadaan bangsa Israel masa itu masih sangat kacau atau sedang mengalami krisis. Keadaan ekonomi masih sulit, karena sebagai orang yang baru mengalami pembuangan, maka orang-orang Israel tidaklah memiliki harta benda yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Keadaan politik masih kacau, karena bangsa Israel belum mempunyai seorang pemimpin untuk mengatur bangsa ini. Apalagi saat itu bangsa Israel masih berada dalam jajahan bangsa Persia. Bahkan pengharapan mereka bahwa Allah akan memulihkan kemakmuran bangsa Israel seperti pada masa Daud seakan-akan tidak menjadi kenyataan, karena mereka masih mengalami penderitaan.
Keadaan bangsa yang sedang mengalami krisis ini, mengakibatkan orang-orang Israel menjadi merasa ragu-ragu tentang perjanjian, kasih dan keadilan Allah (Maleakhi 1:2; 2:17; 3:14). Dengan pemahaman demikian, maka orang-orang Israel kemudian mengabaikan kewajiban mereka sebagai umat Allah. Dan salah satunya ialah dalam hal memberikan persembahan persepuluhan dan persembahan khusus.
Oleh sebab itu, Tuhan kemudian menegur dan memberikan janji kepada umat-Nya melalui nabi Maleakhi, agar bangsa Israel dapat kembali melakukan kewajiban mereka sebagai umat Allah dengan setia dan tanggung jawab. Secara khusus pada bagian yang kita baca tadi, agar orang-orang Israel dapat kembali memberikan persembahan persepuluhan dan persembahan khusus.
III. Teguran Tuhan Kepada Bangsa Israel (ayat 6-10a)
Tuhan menegur bangsa Israel karena mereka tidak lagi memberikan persembahan persepuluhan dan persembahan khusus ke dalam perbendaharaan Allah.
Pada ayat ke-6 Tuhan memulai teguran-Nya dengan menyatakan bahwa Ia tidak pernah berubah dan bangsa Israel tidak akan lenyap. Hal ini menunjukkan bahwa kasih setia dan keadilan Allah tidak pernah berubah, sehingga walaupun bangsa Israel telah mengalami kutukan Allah (pasal 2:2 dan 3:9), mereka tidak akan binasa. Sebab hukuman Allah tersebut hanya untuk melenyapkan dosa-dosa umat-Nya bukan melenyapkan umat-Nya.
Oleh karena Tuhan tetap mengasihi bangsa Israel, maka pada ayat ke-7, Tuhan memanggil bangsa Israel agar mereka kembali kepada Allah dengan melakukan kewajiban agama mereka. Akan tetapi perkataan “Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali ?” menunjukkan bahwa bangsa Israel tidak menyadari akan kesalahan mereka. Mereka selalu merasa bahwa mereka tidak melakukan kesalahan apapun sebagai umat Allah. Keadaan ini sama dengan orang yang berulangkali melakukan kesalahan, sehingga pada satu waktu orang tersebut tidak lagi menjadi peka akan kesalahan yang telah diperbuatnya. Sebagai contoh orang yang berbohong untuk pertama kali, akan merasakan ketidak-tenangan di dalam hatinya. Akan tetapi ketika orang tersebut terus melakukan kebohongan, maka ia tidak akan lagi memiliki kepekaan bahwa berbohong tersebut merupakan hal yang salah. Malahan ia akan menganggap bahwa berbohong merupakan hal yang wajar. Begitu pula dengan orang-orang Israel. Karena mereka tidak lagi memberikan persembahan persepuluhan dan persembahan khusus, maka pada satu waktu mereka tidak lagi menganggap itu sebagai tindakan yang salah. Dan akhirnya ketika Allah menegur mereka akan kesalahan tersebut, maka mereka tidak lagi menyadarinya.
Oleh sebab bangsa Israel tidak menyadari akan kesalahan mereka, maka pada ayat 8 dan 9, Tuhan dengan keras menyatakan bahwa bangsa Israel telah melakukan penipuan terhadap diri-Nya. Bahkan kata menipu pada ayat 8 dan 9 sebenarnya mengarah kepada perampasan, sehingga Tuhan ingin menyatakan bahwa bangsa Israel telah merampas hak-Nya atas persembahan tersebut. Penipuan tersebut dilakukan oleh bangsa Israel dengan tidak lagi membawa persembahan persepuluhan dan persembahan khusus ke dalam rumah perbendaharaan.
Persembahan persepuluhan merupakan perpuluhan dari pendapatan setiap orang Israel – baik itu hasil dari bercocok-tanam, beternak, berdagang, dan pekerjaan mereka yang lain, yang harus diberikan kepada Tuhan (Ulangan 14: 22-29). Sedangkan persembahan khusus dapat termasuk sebagai persembahan sukarela (Ulangan 12:6) atau merupakan benda-benda yang dimandatkan untuk dipersembahkan kepada Tuhan (Keluaran 25:2; 29:27-28). Sebagai pemilik segala sesuatu, Tuhan mempercayakan atau menitipkan sebagian dari milik-Nya kepada umat-Nya. Dan karena itu Tuhan berhak untuk meminta kepada umat-Nya, sepersepuluh dari yang telah Ia berikan untuk dibawa ke dalam rumah perbendaharaan, dengan tujuan untuk pelayanan hamba-Nya yang pada masa itu adalah suku Lewi (ayat 10). Oleh sebab itu dengan memberikan persembahan persepuluhan dan persembahan khusus, maka bangsa Israel mengakui akan hak kepemilikan Allah atas persembahan tersebut. Inilah sebabnya mengapa Tuhan menegur bangsa Israel dengan keras, ketika mereka tidak lagi memberikan persembahan persepuluhan dan persembahan khusus ke dalam rumah perbendaharaan Allah.
Lalu apa yang bisa kita pelajari dari teguran Tuhan yang keras terhadap bangsa Israel ini?
Sebagaimana Tuhan telah menyatakan bahwa diri-Nya tidak berubah, maka ini menunjukkan bahwa kasih setia dan keadilan-Nya kepada kita selaku umat yang telah ditebus-Nya tidak pernah berubah. Meskipun pada kenyataannya kita seringkali berlaku tidak setia kepada Tuhan. Oleh karena kasih setia dan keadilan Tuhan yang tidak pernah berubah tersebut, maka marilah kita melakukan kewajiban kita selaku umat Allah dengan setia dan tanggung jawab, khususnya sebagaimana yang dijelaskan pada bagian firman Tuhan yang kita baca ini yaitu dalam kewajiban memberikan persembahan persepuluhan ke dalam rumah Tuhan dengan tujuan untuk mendukung pelayanan Tuhan melalui gereja ini. Dengan memberikan persembahan persepuluhan ke dalam rumah Tuhan, maka kita sebagai umat Allah menyatakan syukur kita kepada Allah atas kasih setia dan keadilan-Nya yang tidak pernah berubah kepada kita.
Bahkan dengan memberikan persembahan persepuluhan, menunjukkan bahwa kita mengakui akan hak kepemilikan Allah akan segala sesuatu yang kita miliki, termasuk harta benda yang kita miliki. Sebab semuanya itu adalah pemberian Tuhan kepada kita. Kalau kita tidak mengakui bahwa Allah adalah pemilik segala harta kita, maka besar kemungkinan bahwa kita pun menjadi orang yang tamak dan kikir. Dan hal ini tentunya pun tidak kita kehendaki. Jangan sampai Tuhan menegur kita dengan keras, dengan menyatakan bahwa kita telah menipu Dia dengan merampas akan hak milik-Nya. Oleh sebab itu marilah kita melakukan kewajiban kita sebagai umat Allah, yaitu dengan memberikan persembahan persepuluhan ke dalam rumah Allah, sebagai tanda syukur akan kasih setia dan keadilan Tuhan kepada kita, dan sebagai pengakuan akan kepemilikan Tuhan atas segala sesuatu yang kita miliki selama hidup di dunia ini.
IV. Janji Tuhan kepada bangsa Israel (ayat 10b-12)
Selain menyatakan teguran kepada umat-Nya Israel, Tuhan juga menyatakan janji-Nya kepada orang-orang Israel yang dengan setia dan tanggung jawab melakukan kewajibannya dengan memberikan persembahan persepuluhan ke dalam rumah perbendaharaan Allah.
Pada ayat 10b, Tuhan memberikan pernyataan “…dan ujilah Aku…” yang menunjukkan sebuah kesungguhan yang amat sangat dari Tuhan. Hal ini memberikan pemahaman bahwa penjelasan atau kalimat-kalimat selanjutnya dari pernyataan “ujilah Aku” ini, yaitu pernyataan pada ayat 10-12 merupakan janji yang pasti akan terjadi, sebab Tuhan sendiri yang menjaminnya.
Pada ayat 10, Tuhan melanjutkan pernyataan-Nya dengan mengatakan “…apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Dalam bentuk aslinya, kata kerja membukakan dan mencurahkan pada kalimat ini menggunakan bentuk yang menyatakan sesuatu yang telah dilakukan pada masa lampau namun belum berakhir pada masa sekarang dan masih akan terus berlanjut sampai pada akhirnya, atau dengan kata lain belum selesai, masih dalam proses. Oleh karena itu, maka pernyataan ini memiliki pengertian bahwa Tuhan telah dan terus menyatakan berkat-Nya kepada bangsa Israel, sehingga mereka pun tidak mampu untuk menampungnya. Mirip seperti ketika kita mengisi bak kamar mandi yang kosong dengan pancuran air yang deras, sampai bak tersebut tidak dapat menampung air yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan berjanji bahwa Ia selalu memelihara umat-Nya, dengan terus mencurahkan berkat-Nya.
Bahkan selain dengan berjanji bahwa Ia selalu memelihara dengan terus mencurahkan berkat, pada ayat 11 Tuhan kemudian berjanji kepada umat-Nya bahwa Ia akan mengusir belalang pelahap yang seringkali mengganggu hasil tanah bangsa Israel, dan supaya pohon-pohon pada masa itu dapat memberikan buahnya. Janji ini menunjukkan kemurahan hati Tuhan bahwa Ia akan memulihkan keadaan umat-Nya dari hal-hal yang mengganggu mereka untuk melakukan kewajibannya sebagai umat Allah, secara khusus yaitu memberikan persembahan persepuluhan.
Dan ayat 12 menunjukkan keadaan bangsa Israel yang mengalami janji Tuhan. Di mana pada ayat ini dijelaskan bahwa negeri Israel akan menjadi negeri kesukaan, dan segala bangsa akan menyebut mereka berbahagia. Keadaan ini hanya akan terjadi ketika bangsa Israel mulai menyadari kesalahan mereka, dan melakukan kewajiban mereka sebagai umat Allah, dengan memberikan persembahan persepuluhan ke dalam rumah perbendaharaan Allah.
Apa yang bisa kita pelajari dari janji Tuhan kepada bangsa Israel ini?
Sebagaimana pernyataan Tuhan “ujilah Aku” yang menunjukkan kesungguhan Tuhan yang amat sangat, maka janji-janji yang telah diucapkan-Nya ini pasti terjadi.
Janji Tuhan yang pertama bahwa Ia selalu memelihara umat-Nya dengan telah dan terus mencurahkan berkatnya, menunjukkan bahwa kita sebagai umat Tuhan selalu menerima berkat-Nya. Oleh karena itu, meskipun kita saat ini hidup dalam keadaan bangsa yang sedang mengalami krisis dan situasi yang sulit, berkat Tuhan selalu dicurahkan kepada kita, seperti nafas kehidupan, kesehatan, kemampuan untuk melakukan segala sesuatu, dan yang lain. Dengan demikian marilah kita memberikan persembahan perpuluhan, karena berkat Tuhan selalu dicurahkan kepada kita sebagai bukti pemeliharaan-Nya.
Pemahaman menunjukkan agar kita sebagai umat Allah tidak memberikan persembahan perpuluhan kepada Allah dengan tujuan untuk mendapatkan berkat. Karena selama ini tidak sedikit orang Kristen yang memiliki pemahaman untuk memberikan perpuluhan supaya ia mendapat berkat yang lebih besar. Atau ibaratnya memancing Allah untuk mendapatkan berkat. Melainkan marilah kita memberikan persembahan perpuluhan dengan pemahaman karena kita selalu dipelihara oleh Tuhan.
Dan janji Tuhan yang kedua bahwa Ia akan mengusir hal-hal yang mengganggu umat-Nya untuk memberikan persembahan perpuluhan menunjukkan bahwa Tuhan akan menyatakan kemurahan hati-Nya dengan memulihkan keadaan umat-Nya. Hal ini memberikan pemahaman bahwa Tuhan akan memulihkan keadaan kita yang sedang mengalami krisis ketika kita memberikan persembahan perpuluhan dengan setia dan tanggung jawab. Dengan demikian kita akan dimampukan untuk selalu dapat memberikan yang terbaik buat Dia. Hal ini bisa saja terjadi secara cepat atau perlahan, namun yang pasti pemulihan keadaan itu pasti akan terjadi sebagai bukti kemurahan Tuhan kepada kita. Dan dengan demikian, maka orang lain akan menyebut kita berbahagia. Oleh sebab itu, marilah kita memberikan persembahan perpuluhan dengan setia dan tanggung jawab. Karena janji Tuhan telah diberikan kepada kita.
Tidak dapat dipungkiri bahwa keadaan bangsa yang sedang mengalami krisis dalam berbagai bidang dan kondisi ekonomi kita yang sulit juga memberikan pengaruh kepada kehidupan rohani kita, sehingga terkadang kita menjadi tidak setia untuk melakukan kewajiban kita sebagai umat Allah, salah satunya ialah dengan memberikan persembahan persepuluhan.
Akan tetapi marilah kita sebagai umat Allah melakukan kewajiban kita di tengah-tengah situasi ekonomi yang sulit ini, yaitu dengan senantiasa memberikan persembahan perpuluhan kepada Allah.
- Marilah kita memberikan persembahan perpuluhan sebagai ucapan syukur kita kepada Allah, karena kasih setia, dan keadilan-Nya yang tidak pernah berubah kepada kita umat-Nya.
- Marilah kita memberikan persembahan perpuluhan untuk pelayanan Tuhan sebagai pengakuan akan hak milik-Nya atas hidup kita termasuk harta benda yang kita miliki.
- Marilah kita memberikan persembahan perpuluhan, karena berkat-berkat Tuhan yang telah dan terus dicurahkan kepada kita sampai saat ini. Dan,
- Marilah kita memberikan persembahan perpuluhan, yang pasti memulihkan keadaan kita sebagai bentuk kemurahan hati-Nya. Agar kita dapat selalu memberikan yang terbaik buat Dia.
Amin.
Royke R. Durand berkata,
Juni 20, 2009 @ 6:23 am
TUHAN sudah menjanjikan berkat dalam kehidupan kita. Salah satu respon iman kita adalah memberikan perpuluhan.